ridwans

Sejak: 29-05-2009 Post: 115 Lokasi: www.indonezia.net - berjihad!!
|
Dikirim: 23 Jul 2007 08:39 Judul: Adakah Kewajiban Menyebarkan Berita SMS? |
|
|
Adakah Kewajiban Menyebarkan Berita SMS?
June 27th, 2007 — SubHan
Ini hikmah yang pernah saya alami kurang lebih 1 tahun yang lalu atau diantara sahabat-sabahat juga pernah mengalami hal yang sama : menerima sms atau selembaran yang bunyinya amanat dari Mekkah, penjaga makam nabi bermimpi bertemu rasullullah, dan rasulullah berpesan agar kita selalu bertaqwa. Barang siapa yang mendapat sms ini di wajibkan menyebarkan sms ini ke 10 temannya, maka akan mendapat rezeki, barang siapa yang tidak menyebarkan maka akan mendapat kesulitan.
Apakah dianjurkan menyebarkannya atau tidak mempercayai isinya karena takut terkena khurafat dan syirik?
Berikut penjelasan dari Ust. Ahmad Sarwat Lc, yang saya kutip dari eramuslim :
Sudah sejak zaman dahulu kala penipuan model begini selalu saja muncul. Bedanya, dahulu menggunakan kertas yang diphoto-copy, sekarang di zaman telepon seluler, medianya menggunakan SMS.
Tetapi intinya sama saja, yaitu penipuan dan pembodohan yang sama sekali tidak ada dasarnya. Sayangnya, masih saja ada dari kalangan umat Islam yang termakan dengan pesan berantai model begini.
Padahal ada begitu banyak kejanggalan di dalamnya. Antara lain:
1. Di antara isi wasiat yang didasarkan pada impian Syekh Ahmad yang katanya bermimpi bertemu Nabi saw. itu ialah tentang telah dekatnya hari kiamat. Padahal tidak usah lewat wasiat itu pun kita sudah tahu bahwa hari kiamat memang telah dekat.
Dalam hal ini ada hadits dari Nabi SAW yang menegaskan hal itu.
Anas dan Sahl bin Sa’ad berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku dan hari kiamat diutus (secara berdekatan) seperti ini. Beliau (mengatakan demikian) sambil memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.” (Muttafaq ‘alaih)
2. Isi wasiat tersebut justru merupakan indikasi yang memperlihatkan kebohongan dan kepalsuan wasiat tersebut.
Sebab, isi wasiat itu justru berupaancaman dan upaya menakut-nakuti orang yang tidak mau menyebarluaskannya. Misalnyabahwa ia akan mendapat musibah dan kesusahan, anaknya akan mati dan hartanya akan habis.
Hal ini tidak pernah dikatakan oleh seorang manusia pun yang normal pikirannya, terhadap kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Tidak ada perintah bahwa orang yang membaca Al-Qur’an harus menulisnya setelah itu kemudian menyebarluaskannya kepada orang lain.Jika tidak, akan terkena musibah. Begitu pula tidak ada perintah bahwa orang yang membaca Shahih Bukhari harus menulisnya dan menyebarluaskannya kepada khalayak ramai, sebab kalau tidak, akan tertimpa musibah.
Bahkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul pun tidak main ancam dengan pola demikian. Bagaimana mungkin sampai ada wasiat yang bisa-bisanya main ancam?
Secara logika tentu sudah tidak bisa diterima. Apalagi logika orang muslim yang memahami Islam dengan baik dan benar.
Kemudian dalam wasiat tersebut dikatakan bahwa seseorang yang menyebarluaskan wasiat tersebut telahmendapat rezeki sekian puluh ribu rupiah. Padahal untuk memperoleh rezeki, ada sebab-sebabnya, ada jalan dan aturannya. Adapun bersandar kepada kabar burung seperti dalam wasiat itu adalah merupakan upaya untuk menyesatkan dan meyelewengkan akal pikiran umat Islam.
Kita perlu menjaga dan mengawasi kaum muslimin agar tidak membenarkan dan percaya kepada khurafat seperti ini dan agar tidak mempunyai anggapan bahwa orang yang menyebarluaskan wasiat palsu tersebut akan mendapat syafaat dari Nabi saw. sebagaimana yang dikatakan oleh penulis selebaran yang batil itu.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
berhati hatilah kaum muslimin
www.indonezia.net |
|